Jumat, 28 Juli 2017

mari belajar coso dalam internal audit,mengacu ke audit management ya guys.

MAKALAH
AUDIT INTERNAL MANAGEMENT
PENERAPAN COSO PADA PT WIJAYA KARYA BETON
 “Disusun untuk memenuhi tugas Mata kuliah Audit Management

Disusun Oleh:
NISLATUL MILA  EA. 14.1.0740

FAKULTAS EKONOMI PROGAM STUDI AKUNTANSI UNIVERSITAS PANDANARAN
SEMARANG
2017


 

 

KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan Rahmat dan karunianya kepada setiap  Insan Hambanya, sehingga penulis mampu untuk membuat sebuah Makalah dengan judul Audit Internal Management yakni Penerapan Coso pada Perusahaan Manufacture yakni pada PT.Wijaya Karya Beton . judul ini penulis angkat karena melihat dari kacamata dunia kerja tentunya dalam sebuah perusahaan go publik suatu permasalahan yang selalu di alami oleh suatu perusahaan yakni sistem pengendalian internal adalah sebuah managemen yang harus kendalikan, di lakukan dan di laksanakan dalam suatu perusahaan guna keamanan suatu perusahaan tersebut, entah keamanan secara finansial /keuangan perusahaan,Laporan Keuangan ataupun pengendalian untuk karyawan dari suatu perusahaan itu sendiri. tak lupa pula Solawat yang selalu kita Agungkan kepada junjungan kita Nabi Muhamad SAW sebagai panutan kita di akhir Zaman, selalu tercurah berkah,  tercurah karunia dan selalu tercurah segala kebaikan dari-NYA dan atas  Ridho-NYA hingga saya sebagai penulis Makalah Audit Internal Management yakni Penerapan Coso pada Perusahaan Manufacture yakni pada PT.Wijaya Karya Beton ini bisa penulis rampungkan meski penulis tahu Makalah ini teramat sangat jauh dari Kata sempurna.
Namun alangkah bahagianya penulis karena telah bisa dan mampu merampungkan Makalah ini dengan tepat pada waktunya, dan penulis berharap isi dari Makalah ini bisa menjadi acuan bagi pembaca agar nantinya bisa di ambil informasinya, bisa di ambil saringan ilmunya, dan bisa bermanfaat lain dalam hal apapun tentunya dalam hal pendidikan maupun non pendidikan. Terlepas dari itu semua penulis masih membutuhkan kritik dan saran , beberapa masukan, beberapa tanggapan, bahkan beberapa sanggahan untuk Makalah Sistem Pengendalian Internal dalam suatu perusahaan ini, entah dalam penataan kata, frasa, bahasa ataupun  keindahan kalimatnya. penulis akan sangat berterimakasih apabilan pembaca enggan memberikan kritik dan saran guna kesempurnaan Makalah ini ,Meski kita tahu kesempurnaan hanya milik ilahi semata.
Akhir kata dari penulis semoga Makalah ini bermanfat dan bisa memberikan nilai positif bagi semua pihak
Ungaran,27 Juli 2017

                                                                                    Penulis
           
                                                                                                                                                                                                                                                Nislatul Mila

 

 



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL






























BAB I

I. PENDAHULUAN

I.I. LATAR BELAKANG

Penerapan pengendalian internal di berbagai organisasi baik dalam skala kecil maupun besar telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya untuk mencapai tujuan organisasi. Secara historis, meningkatnya peran pengendalian internal tidak dapat lepas dari kasus kejatuhan perusahaan energi raksasa Enron dan beberapa kasus perusahaan besar lainnya yang di latar belakangi fraud oleh manajemen yang akhirnya menyadarkan pengendalian internal sebagai upaya preventive untuk mencegah tindakan defisiensi yang mengancam  keberlangsungan perusahaan. Hal ini juga yang melahirkan salah satu acuan hukum utama bagi penerapan pengendalian internal yakni Sarbanes-Oxley Act 2002 (SOX) yang salah satu pasalnya yaitu bagian 404 (section 404) mengatur kewajiban adanya pengendalian internal di perusahaan
Sebagai upaya untuk mencapai kepatuhan berdasarkan SOX, secara umum perusahaan menggunakan sebuah kerangka kerja yang dikenal dengan COSO Framework yang diterbitkan tahun 1992 oleh sebuah organisasi independent bernama COSO (Committee of Sponsoring Organization of the Tradeway Commission).
Kerangka kerja COSO mencakup desain pengendalian yang mengikutsertakan kebutuhan kelompok-kelompok yang berhubungan dengan pengendalian internal yaitu auditor internal dan eksternal, manajemen entitas, dan pemilik perusahaan selaku pemegang otoritas.


Sementara itu, seiring dengan perkembangan waktu dan teknologi, COSO merasa perlu adanya pembaruan dalam kerangka kerja yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1992. Melalui serangkaian publikasi rancangan (draft exposure) yang dimulai tahun 2010, tiga tahun kemudian COSO meresmikan sebuah kerangka kerja baru yaitu COSO Internal Control Framework 2013. Kerangka kerja (Framework) ini dapat diterapkan baik oleh perusahaan publik yang sudah listing maupun usaha kecil dan menengah.



I.II. RUMUSAN MASALAH

Seperti yang telah dijelaskan dalam latar belakang masalah, masalah yang dirumuskan adalah tingkat efektivitas pengendalian internal di departemen keuangan PT WIKA yang diukur kesesuaiannya dengan kerangka kerja pengendalian terbaru yang disusun oleh COSO.


I.III. TUJUAN TEORITIS

pengendalian internal melaksanakan tiga fungsi penting yang tertuang dalam tiga bentuk pengendalian, yaitu:
·         Preventive Control  Mencegah suatu masalah sebelum masalah tersebut muncul ataupun mencegah terjadinya penyalahgunaan suatu hal
·         Detective Control  Mengungkap permasalahan / risiko yang terjadi ketika masalah tersebut muncul.


·         Corrective Control  Memecahkan masalah yang ditemukan oleh pengendalian dalam rangka pemeriksaan. Pada bagian ini biasanya dilakukan suatu prosedur untuk memperbaiki masalah tersebut agar kejadian yang sama tidak terulang kembali.
COSO memberikan penjelasan mengenai konsep multidimensional dari pengendalian internal bahwa pengendalian internal adalah suatu proses, dipengaruhi oleh dewan direksi, manajemen, dan personil lainnya pada suatu entitas yang dirancang untuk memberikan keyakinan memadai atas pencapaian tujuan dalam kategori berikut; efektivitas dan efisiensi operasi, keandalan pelaporan keuangan, dan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.

















BAB II

II. PEMBAHASAN

II.I. PENGENDALIAN INTERNAL

COSO memberikan penjelasan mengenai konsep multidimensional dari pengendalian internal bahwa pengendalian internal adalah suatu proses, dipengaruhi oleh dewan direksi, manajemen, dan personil lainnya pada suatu entitas yang dirancang untuk memberikan keyakinan memadai atas pencapaian tujuan dalam kategori berikut; efektivitas dan efisiensi operasi, keandalan pelaporan keuangan, dan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
Dalam kerangka pengendalian internal COSO, terkandung 5 komponen utama, yaitu lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi dan pengawasan. Kelima komponen ini harus diberikan perhatian utama agar pengendalian internal terimplementasi dengan efektif dan efisien. Dalam kelima komponen tersebut terkandung 17 prinsip yang saling melengkapi untuk lebih menyesuaikan dengan komponen lebih detail lagi. Prinsip-prinsip tersebut didasarkan pada perkembangan bisnis saat ini sehingga lebih dapat menggambarkan kondisi organisasi terkini lebih dalam.

II.II. MANAJEMEN RESIKO

Ketika perusahaan telah menyadari dan mengukur risiko usahanya melalui pendekatan ERM, maka sudah saatnya perusahaan untuk melakukan manajemen pengelolaan risiko. Teknik pengelolaan risiko berdasarkan kerangka ERM COSO (2004) yang dapat dilakukan perusahaan adalah:
·         Reduction
Tindakan diambil untuk mengurangi peluang terjadi atau dampak risiko, atau bahkan keduanya.
·         Acceptance
Tidak ada tindakan yang diambil untuk mempengaruhi peluang terjadinya atau dampak risiko. Menerima risiko dengan memperbolehkan risiko, namun dengan kehati-hatian
·         Avoidance


Merancang ulang proses atau menghindari aktivitas yang risikonya dapat diminimalisasi sampai tingkatan yang dapat diterima. Contohnya, ekspansi ke pasar geografis yang baru, menjual suatu divisi, keluar dari suatu lini produk.
·         Sharing
Mengurangi peluang terjadinya atau dampak risiko dengan memindahkan atau membagi bagian dari risiko. Contoh teknisnya seperti membeli asuransi, mengikuti transaksi hedging, atau outsourcing suatu kegiatan.
Bagi sebagian besar usaha, teknik yang paling lazim digunakan dalam mengelola risiko dengan teknik Reduction, yaitu dengan menerapkan pengendalian internal. Dengan demikian, manajemen bertugas untuk merancang sistem pengendalian internal mutakhir yang berbasis risiko.

II.III. PROFIL PT WIJAYA KARYA

PT. WIKA Beton adalah perusahaan yang khusus bergerak dalam industri beton pracetak (precast concrete) yang merupakan salah satu anak perusahaan dari PT. Wijaya Karya (WIKA) sebagai holding company. WIKA merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang didirikan pada tahun 1960. WIKA memulai kegiatannya sebagai perusahaan yang menyediakan  instalasi listrik.
Visi dari perusahaan PT. WIKA Beton tahun 2005 berdasarkan Surat Keputusan No. SK.01.01/WB-OA.110/2005 tentang visi, misi, moto, nilai-nilai dan paradigm PT. WIKA Beton adalah, "To Be the Foremost Company in the Precast Concrete Product Industry." Realisasi dari visi yang telah dijabarkan diatas ingin dicapai PT. WIKA Beton dengan mission statement yang ditetapkan sebagai berikut:
·         Memimpin pasar beton pracetak di Indonesia.
·         Memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan dengan kesesuaian mutu, ketepatan waktu dan harga bersaing.


·         Menerapkan sistem manajemen dan teknologi yang dapat memacu peningkatan efisiensi, konsistensi mutu, keselamatan kerja yang berwawasan lingkungan.
·         Tumbuh dan berkembang bersama mitra kerja secara sehat dan berkesinambungan.
·         Mengembangkan kompetensi dan kesejahteraan pegawai.
Nilai-nilai yang berusaha ditanamkan oleh perusahaan sebagai penyampai pesan visi dan misi ialah; Commitment, Innovation, Balance, Excellence, Relationship, Teamwork, dan Integrit
Secara keseluruhan operasional dari perusahaan terbagi menjadi tiga proses inti, yaitu penjualan, enjinering, dan produksi. Proses penjualan disini melibatkan proses permintaan dan penawaran oleh pelanggan, kemudian biro dan seksi terkait akan menyesuaikan spesifikasi  produk melalui proses enjinering, selanjutnya proses produksi akan dimulai apabila telah tercapai kesepakatan antara perusahaan dan pelanggan

BAB 111

III. PEMBAHASAN COSO

III.I. Evaluasi Pengendalian Internal PT. WIKA Beton Melalui Kerangka Pengendalian Internal COSO 2013

III.I.I. Lingkungan Pengendalian (Control Environment)

PT. WIKA Beton mendukung komponen ini, dimana perusahaan mengharuskan seluruh unit  kerja untuk membangun lingkungan pengendalian yang kondusif bagi unit nya masing-masing. Hal ini tertuang pada SOP pengelolaan risiko, dimana lingkungan pengendalian yang kuat merupakan awalan dari proses manajemen risiko perusahaan.

III.I.II. Penilaian Risiko (Risk Assessment)

Eksistensi dari sistem manajemen risiko dan SOP pengelolaan risiko dan penanganan tindakan pencegahan telah membuat penilaian risiko perusahaan semakin mutakhir. Hal ini dikarenakan masing-masing unit kerja sekarang dapat mengukur efektivitas dan efisiensi dari pengendalian yang dilakukan.
Dampaknya, perusahaan dapat memberikan evaluasi dan tindakan serta persiapan yang tepat untuk menghadapi risiko selanjutnya. Walaupun baru berjalan 4 tahun, hal ini telah meningkatkan bukan hanya dari sisi penilaian risiko tapi juga pengendalian internal secara keseluruhan.

III.I.III. Kegiatan Pengendalian (Control Activities)

PT. WIKA Beton melakukan dua jenis kegiatan pengendalian, yaitu pengendalian terhadap prosedur enjinering dan produksi dan pengendalian operasi. Pengendalian yang pertama berfokus untuk memastikan biro produksi dan biro teknik menangani produk beton dengan benar sesuai standar. Pengendalian operasi memastikan agar tercapainya efisiensi bisnis, kesesuaian dengan peraturan dan pelaporan keuangan yang terpercaya.
Kegiatan pengendalian teknik dan produksi ditangani oleh biro pengendalian operasi yang berkoordinasi dengan biro terkait. Sedangkan, pengendalian internal dirancang dan diterapkan oleh masing-masing unit kerja. Dalam melakukan kegiatan pengendalian salah satu altternatif yang dapat digunakan oleh perusahaan adalah pemisahan tugas. Perusahaan telah menerapkan pemisahan tugas sebagai salah satu bentuk pengendalian

III.I.IV. Informasi dan Komunikasi (Information and Communication)

Dalam menyusun sistem informasi perusahaan, PT. WIKA Beton mengadaptasi sistem yang diterapkan oleh WIKA Induk. Dalam rangka mendukung percepatan pertumbuhan usaha dan  meningkatkan daya  saing,  perusahaan  mengembangkan sistem  informasi yang  fokus pada
operasional dengan menyusun masterplan teknologi informasi atau IT yang menunjang strategi bisnis perusahaan yang dituangkan dalam Rencana Jangka Panjang dan Jangka Pendek Perusahaan.
Perkuatan IT masterplan ini didukung dengan adanya peningkatan tata kelola IT, peningkatan infrastruktur IT dan peningkatan aplikasi bisnis perusahaan yang bertujuan untuk memastikan sustainability perusahaan, dan memberikan nilai tambah di setiap fungsi khususnya terhadap efisiensi dan efektivitas proses bisnis (biaya, mutu dan waktu).
Perusahaan menyusun model arsitektur IT di mana setiap nilai yang dihasilkan dari setiap proses memberikan kontribusi terhadap proses pengambilan keputusan. Model ini ditetapkan perusahaan sebagai acuan pengembangan IT untuk mendukung setiap perubahan bisnis perusahaan kearah yang lebih baik.

III.I.V. Pengawasan (Monitoring)

Lingkungan operasi PT. WIKA Beton yang terbagi atas manajemen pusat, manajemen wilayah penjualan, dan manajemen pabrik produk beton, meningkatkan intensitas dari kegiatan biro SPI. Berdasarkan internal audit charter PT. WIKA Beton, biro SPI akan melakukan audit yang ditetapkan pada kebijakan tahun berjalan terhadap wilayah penjualan dan pabrik, dan akan melaporkan hasil temuan audit kepada manajemen puncak, dan sesuai struktur organisasi kepada direktur utama.
Dalam setiap struktur organisasi terdapat tugas mengawasi dari atasan kepada subordinat, misalnya manajer mensupervisi kepala bagian atas pengisian formulir SOP pengelolaan risiko. Secara keseluruhan terdapat komite audit dan komite risiko dibawah naungan dewan komisaris PT. WIKA Beton. Komite audit bertugas untuk mengawasi proses audit perusahaan dan komite risiko bertugas untuk mengawasi penerapan manajemen risiko. Dapat dipastikan fungsi pengawasan berjalan pada tingkatan struktur organisasi.

III.II.  Kegiatan Pengendalian Dalam Rangka Minimalisasi Risiko Pada Proses Bisnis Inti PT. WIKA Beton

Proses bisnis inti digambarkan secara umum oleh perusahaan untuk menunjukan proses pelaksanaan usaha yang dilakukan perusahaan. Terdapat SOP teknis secara detail hampir di setiap tahapan sebagai standar yang harus diterapkan unit kerja yang terkait. Pada gambar 8 terlihat bagian pertama dari proses bisnis inti perusahaan. Terdapat beberapa risiko yang dapat diidentifikasi bila didasarkan pada gambar berikut ini.

III.II.I. Risiko R1          

Kesalahan dalam menindaklanjuti kontrak merupakan risiko legal yang sangat besar dampaknya bagi PT. WIKA Beton. Kelemahan kontrak dan pembinaan pelanggan dapat berakibat pada keterlambatan dalam penyelesaian persyaratan tagihan.
·      Menyiapkan SDM yang handal untuk menjabat sebagai manajer dan kepala bagian wilayah penjualan untuk melihat seberapa besar probabilitas dan dampak yang akan dihadapi jika risiko legal terjadi.
·      Memastikan adanya klausul yang memuat perlindungan kepada perusahaan.
·      Memperketat pengisian peninjauan kontrak, manajer wilayah harus terus berkoordinasi dengan kantor pusat sebelum melanjutkan proses selanjutnya.

III.II.II. Risiko R2

Risiko ini berhubungan dengan teknis enjinering yang diinginkan oleh pelanggan. Risiko yang dihadapi PT. WIKA Beton adalah kompleksitas teknis produk yang diinginkan oleh klien. Bentuk pengendalian yang dapat diterpakan adalah sebagai berikut:
·      Meningkatkan human capital avaibility
·      Melakukan kerjasama operasi dengan mitra kerja yang memiliki keahlian khusus.
·      Peningkatan kompetensi pegawai melalui pengembangan teknologi.
·      Terus meng-update SOP-SOP teknis yang dimiliki oleh masing-masing unit kerja.

III.II.III. Risiko R3

Risiko yang ditimbulkan pada proses ini adalah pada terms and conditions pembayaran dan spesifikasi teknis yang diajukan perusahaan tidak dapat memenuhi ekspektasi pelanggan. Pengendalian yang dapat diterapkan adalah:
·      Menilai kredibilitas dan kemampuan pendanaan dari pemberi kerja.
·      Mengharuskan pemberian uang muka proyek dan pelaksanaan pekerjaan dilakukan sesuai dengan perjanjian yang disepakati.
·      Melindungi kepentingan perusahaan dengan menyusun kontrak yang kuat.
·       Melakukan strategi negosiasi yang baik jika terjadi perselisihan dengan pemberi kerja.


III.II.IV. Risiko R4

Risiko yang dihadapi disini adalah lemahnya perencanaan dan persiapan yang dilakukan oleh seksi PEP yang menyebabkan banyaknya permasalahan yang terjadi ketika pelaksanaan produksi dimulai. Pengendalian yang dapat dilakukan, antara lain:
·      Meramalkan permintaan produk, mengawasi permintaaan aktual, dan membandingkannya dengan ramalan permintaan sebelumnya.
·      Menetapkan ukuran pemesanan barang yang ekonomis atas bahan baku yang akan dibeli.
·      Menetapkan kebutuhan produksi dan tingkat persediaan pada saat tertentu.
·      Mengawasi tingkat persediaan, membandingkannya dengan rencana persediaan, dan melakukan revisi rencana produksi pada saat yang ditentukan.
·      Melaksanakan rapat evaluasi perencanaan produksi minimal satu kali dalam seminggu.
·      Terus berkoordinasi dengan seksi produksi dan peralatan terkait dengan proses pelaksanaan produksi.

III.II.V. Risiko R5

·      Praktik Suap dan Uang Terima Kasih (kickbacks) kepada/dari Pemasok & konflik Kepentingan.
Kegiatan pengendalian preventif yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan  menerapkan job rotation bagi pihak yang berhubungan dengan menyeleksi pemasok. PT. WIKA Beton juga telah mengimplementasikan sistem ini sebagai bentuk cross-training antar unit kerja.


·      Bid-Rigging, Cartels, dan Cover Pricing
Bentuk pengendalian juga dilakukan saat mengevaluasi pemasok, bagian pengadaan perusahaan akan mengadakan rapat yang terdiri oleh kepala bagian pengadaan, manajer produksi, dua orang staf pengadaan, dan disupervisi direksi jika dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk mengurangi subyektivitas pada pemasok, sehingga keputusan pemilihan merupakan pemasok yang terbaik.
·      Pemalsuan Cek (Cheque Forgery)
Salah satu alat pengendalian yang dapat digunakan adalah pemisahan tugas (segregation of duties). Selain pemisahan tugas, perusahaan juga harus mempertimbangkan prosedur penulisan cek, yang memiliki otoritas tidak boleh menandatangani cek tersebut sebelumnya, jika memungkinkan untuk otorisasi diperlukan lebih dari satu tanda tangan Selanjutnya dengan melakukan rekonsiliasi saldo cek secara rutin yang dilakukan dengan tingkatan manajemen yang sesuai.
·      Fictitious Invoicing
Dapat dilakukan pengendalian dengan cara; faktur disetujui untuk pembayaran apabila terdapat bundel voucher yang lengkap. Kedua hanya salinan asli faktur yang dibayar. Ketiga, sebagai tindakan preventif, setiap faktur yang telah dibayar harus dibatalkan (ditandai “telah dibayar”).

III.II.VI. Risiko R6

Terdapat risiko bahwa rencana pengadaan material tidak disusun secara baik dan tepat waktu, rencana pengadaan material tidak dapat direalisasikan, rencana pengadaan material tidak memperhitungkan kenaikan harga yang signifikan, dan lain sebagainya. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah:
·         Penyusunan rencana pengadaan material yang didasarkan pada kebutuhan dan  menghindari
over budget.
·         Penyusunan rencana pengadaan material harus mempertimbangkan waktu proses pengadaan dan pemenuhan atas proyek terkait.
·         Penyusunan rencana pengadaan material harus memperhitungkan fluktuasi kenaikan harga dan ketersediaan material yang dibutuhkan.


Selain itu terdapat risiko yang berhubungan dengan penerimaan material yang tidak sesuai dengan pesanan (unordered goods). Bentuk pengendalian yang diterapkan PT. WIKA Beton adalah menginstruksikan bagi bagian pengadaan untuk menerima pengiriman dimana terdapat salinan dari purchase order yang sah.

BAB IV

IV . PENUTUP

IV.I. kesimpulan

·      Kerangka pengendalian internal PT. WIKA Beton, telah memenuhi; lingkungan pengendalian
yang didukung oleh kebijakan direksi; penilaian risiko telah mendukung manajemen risiko dengan adanya SOP pengelolaan risiko; sistem informasi yang terintegrasi, seperti HRMS, WIKA Beton Balance Scorecard, SAP, dan lain sebagainya; tersedia prosedur untuk menjalankan kegiatan pengendalian internal; serta setiap jajaran manajemen unit kerja berkoordinasi dengan biro SPI dalam rangka melakukan pengawasan untuk memastikan eksekusi pengendalian sesuai dengan prosedur yang berlaku.
·      Sejak dibuatnya SOP pengelolaan risiko pada tahun 2009, masing-masing unit kerja dapat melakukan pengukuran keuangan terhadap risiko yang dihadapinya. Hal ini dapat mendukung proses bisnis yang dilakukan perusahan dengan meminimalisasi risiko dan kerugian yang ditimbulkan.
·      Risiko yang dapat mengancam kelangsungan perusahaan terdapat pada peninjauan kontrak, perencanaan produksi, pengadaan, dan penagihan pembayaran. Proses bisnis inti perusahaan dilaksanakan based on project, sehingga banyak risiko inherent yang dihadapi. Untuk itu, prosedur yang ada berperan penting dalam meminimalisasi risiko.

IV.II. Saran

·      Perusahaan sedang merencanakan dan mempersiapkan Initial Public Offering (IPO). Apabila memungkinkan, penelitian selanjutnya dapat membandingkan sistem pengendalian internal sebelum dan sesudah IPO.


·      Terkait dengan cakupan penelitian, disarankan untuk memfokuskan penelitian pada wilayah penjualan dan pabrik produk beton karena sebagai pelaksana pengelolaan usaha bisnis inti, banyak hal yang dapat diteliti lebih lanjut secara spesifik.
·      Pastikan untuk mendapatkan akses lebih ke data-data perusahaan (bahkan full-access).
Menarik untuk meneliti

 








































 🔺

Tidak ada komentar:

Posting Komentar