MAKALAH
AUDIT INTERNAL MANAGEMENT
PENERAPAN COSO PADA PT WIJAYA KARYA BETON
“Disusun untuk memenuhi tugas Mata kuliah Audit Management”

Disusun Oleh:
NISLATUL MILA EA. 14.1.0740
FAKULTAS EKONOMI PROGAM STUDI AKUNTANSI UNIVERSITAS
PANDANARAN
SEMARANG
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT
yang selalu melimpahkan Rahmat dan karunianya kepada setiap Insan Hambanya, sehingga penulis mampu untuk
membuat sebuah Makalah dengan judul ‘Audit Internal
Management yakni Penerapan Coso pada Perusahaan Manufacture yakni pada
PT.Wijaya Karya Beton
“ . judul ini penulis angkat karena
melihat dari kacamata dunia kerja tentunya dalam sebuah perusahaan go publik
suatu permasalahan yang selalu di alami oleh suatu perusahaan yakni sistem
pengendalian internal adalah sebuah managemen yang harus kendalikan, di lakukan
dan di laksanakan dalam suatu perusahaan guna keamanan suatu perusahaan
tersebut, entah keamanan secara finansial /keuangan perusahaan,Laporan Keuangan
ataupun pengendalian untuk karyawan dari suatu perusahaan itu sendiri. tak lupa
pula Solawat yang selalu kita Agungkan kepada junjungan kita Nabi Muhamad SAW
sebagai panutan kita di akhir Zaman, selalu tercurah berkah, tercurah karunia dan selalu tercurah segala
kebaikan dari-NYA dan atas Ridho-NYA
hingga saya sebagai penulis Makalah Audit Internal Management yakni Penerapan Coso pada
Perusahaan Manufacture yakni pada PT.Wijaya Karya Beton ini
bisa penulis rampungkan meski penulis tahu Makalah ini teramat sangat jauh dari
Kata sempurna.
Namun alangkah bahagianya penulis karena telah bisa
dan mampu merampungkan Makalah ini dengan tepat pada waktunya, dan penulis berharap
isi dari Makalah ini bisa menjadi acuan bagi pembaca agar nantinya bisa di
ambil informasinya, bisa di ambil saringan ilmunya, dan bisa bermanfaat lain
dalam hal apapun tentunya dalam hal pendidikan maupun non pendidikan. Terlepas
dari itu semua penulis masih membutuhkan kritik dan saran , beberapa masukan,
beberapa tanggapan, bahkan beberapa sanggahan untuk Makalah Sistem Pengendalian
Internal dalam suatu perusahaan ini, entah dalam penataan kata, frasa, bahasa
ataupun keindahan kalimatnya.
penulis akan sangat berterimakasih apabilan pembaca enggan memberikan kritik
dan saran guna kesempurnaan Makalah ini ,Meski kita tahu kesempurnaan hanya
milik ilahi semata.
Akhir kata dari penulis semoga Makalah ini bermanfat
dan bisa memberikan nilai positif bagi semua pihak
Ungaran,27
Juli 2017
Penulis
Nislatul
Mila
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
BAB I
I. PENDAHULUAN
I.I. LATAR BELAKANG
Penerapan pengendalian internal di
berbagai organisasi baik dalam skala kecil maupun besar telah menjadi bagian
yang tidak terpisahkan dari upaya untuk mencapai tujuan organisasi. Secara
historis, meningkatnya peran pengendalian internal tidak dapat lepas dari kasus
kejatuhan perusahaan energi raksasa Enron dan beberapa kasus perusahaan besar
lainnya yang di latar belakangi fraud oleh
manajemen yang akhirnya menyadarkan pengendalian internal sebagai upaya preventive untuk mencegah tindakan
defisiensi yang mengancam
keberlangsungan perusahaan. Hal ini juga yang melahirkan salah satu
acuan hukum utama bagi penerapan pengendalian internal yakni Sarbanes-Oxley Act
2002 (SOX) yang salah satu pasalnya yaitu bagian 404 (section 404) mengatur kewajiban adanya pengendalian internal di perusahaan
Sebagai upaya untuk
mencapai kepatuhan berdasarkan SOX, secara umum perusahaan menggunakan sebuah
kerangka kerja yang dikenal dengan COSO
Framework yang diterbitkan tahun 1992 oleh sebuah organisasi independent bernama COSO (Committee of Sponsoring Organization of the
Tradeway Commission).
Kerangka kerja COSO mencakup desain
pengendalian yang mengikutsertakan kebutuhan kelompok-kelompok yang berhubungan
dengan pengendalian internal yaitu auditor internal dan eksternal, manajemen
entitas, dan pemilik perusahaan selaku pemegang otoritas.
Sementara itu, seiring dengan perkembangan waktu dan teknologi, COSO
merasa perlu adanya pembaruan dalam kerangka kerja yang diterbitkan pertama
kali pada tahun 1992. Melalui serangkaian publikasi rancangan (draft exposure) yang dimulai tahun 2010,
tiga tahun kemudian COSO meresmikan sebuah kerangka kerja baru yaitu COSO Internal Control Framework 2013.
Kerangka kerja (Framework) ini dapat
diterapkan baik oleh perusahaan publik yang sudah listing maupun usaha kecil dan menengah.
I.II. RUMUSAN
MASALAH
Seperti yang telah dijelaskan dalam
latar belakang masalah, masalah yang dirumuskan adalah tingkat efektivitas
pengendalian internal di departemen keuangan PT WIKA yang diukur kesesuaiannya dengan kerangka
kerja pengendalian terbaru yang disusun oleh COSO.
I.III. TUJUAN
TEORITIS
pengendalian internal melaksanakan tiga fungsi penting
yang tertuang dalam tiga bentuk pengendalian, yaitu:
·
Preventive
Control Mencegah
suatu masalah sebelum masalah tersebut muncul ataupun mencegah terjadinya
penyalahgunaan suatu hal
·
Detective
Control Mengungkap
permasalahan / risiko yang terjadi ketika masalah tersebut muncul.
·
Corrective
Control Memecahkan
masalah yang ditemukan oleh pengendalian dalam rangka pemeriksaan. Pada bagian
ini biasanya dilakukan suatu prosedur untuk memperbaiki masalah tersebut agar
kejadian yang sama tidak terulang kembali.
COSO memberikan penjelasan mengenai
konsep multidimensional dari pengendalian internal bahwa pengendalian internal
adalah suatu proses, dipengaruhi oleh dewan direksi, manajemen, dan personil
lainnya pada suatu entitas yang dirancang untuk memberikan keyakinan memadai
atas pencapaian tujuan dalam kategori berikut; efektivitas dan efisiensi
operasi, keandalan pelaporan keuangan, dan kepatuhan terhadap hukum dan
peraturan yang berlaku.
BAB II
II. PEMBAHASAN
II.I. PENGENDALIAN
INTERNAL
COSO memberikan penjelasan mengenai
konsep multidimensional dari pengendalian internal bahwa pengendalian internal
adalah suatu proses, dipengaruhi oleh dewan direksi, manajemen, dan personil
lainnya pada suatu entitas yang dirancang untuk memberikan keyakinan memadai
atas pencapaian tujuan dalam kategori berikut; efektivitas dan efisiensi
operasi, keandalan pelaporan keuangan, dan kepatuhan terhadap hukum dan
peraturan yang berlaku.
Dalam kerangka pengendalian internal
COSO, terkandung 5 komponen utama, yaitu lingkungan pengendalian, penilaian
risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi dan pengawasan. Kelima
komponen ini harus diberikan perhatian utama agar pengendalian internal
terimplementasi dengan efektif dan efisien. Dalam kelima komponen tersebut
terkandung 17 prinsip yang saling melengkapi untuk lebih menyesuaikan dengan
komponen lebih detail lagi. Prinsip-prinsip tersebut didasarkan pada
perkembangan bisnis saat ini sehingga lebih dapat menggambarkan kondisi
organisasi terkini lebih dalam.
II.II. MANAJEMEN
RESIKO
Ketika perusahaan telah menyadari dan
mengukur risiko usahanya melalui pendekatan ERM, maka sudah saatnya perusahaan
untuk melakukan manajemen pengelolaan risiko. Teknik pengelolaan risiko
berdasarkan kerangka ERM COSO (2004) yang dapat dilakukan perusahaan adalah:
·
Reduction
Tindakan diambil untuk mengurangi peluang terjadi atau dampak
risiko, atau bahkan keduanya.
·
Acceptance
Tidak ada tindakan yang diambil untuk mempengaruhi peluang
terjadinya atau dampak risiko. Menerima risiko dengan memperbolehkan risiko,
namun dengan kehati-hatian
·
Avoidance
Merancang ulang proses atau menghindari aktivitas yang
risikonya dapat diminimalisasi sampai tingkatan yang dapat diterima. Contohnya,
ekspansi ke pasar geografis yang baru, menjual suatu divisi, keluar dari suatu
lini produk.
·
Sharing
Mengurangi peluang terjadinya atau dampak risiko dengan
memindahkan atau membagi bagian dari risiko. Contoh teknisnya seperti membeli
asuransi, mengikuti transaksi hedging,
atau outsourcing suatu kegiatan.
Bagi sebagian besar usaha, teknik yang paling lazim
digunakan dalam mengelola risiko dengan teknik Reduction, yaitu dengan menerapkan pengendalian internal. Dengan
demikian, manajemen bertugas untuk merancang sistem pengendalian internal
mutakhir yang berbasis risiko.
II.III. PROFIL
PT WIJAYA KARYA
PT. WIKA Beton adalah perusahaan yang
khusus bergerak dalam industri beton pracetak (precast concrete) yang merupakan salah satu anak perusahaan dari
PT. Wijaya Karya (WIKA) sebagai holding
company. WIKA merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang
didirikan pada tahun 1960. WIKA memulai kegiatannya sebagai perusahaan yang
menyediakan instalasi listrik.
Visi dari perusahaan
PT. WIKA Beton tahun 2005 berdasarkan Surat Keputusan No.
SK.01.01/WB-OA.110/2005 tentang visi, misi, moto, nilai-nilai dan paradigm PT.
WIKA Beton adalah, "To Be the Foremost Company in the Precast
Concrete Product Industry." Realisasi
dari visi yang telah dijabarkan diatas ingin dicapai PT. WIKA Beton dengan mission statement yang ditetapkan
sebagai berikut:
·
Memimpin pasar beton pracetak di Indonesia.
·
Memberikan pelayanan yang terbaik
kepada pelanggan dengan kesesuaian mutu, ketepatan waktu dan harga bersaing.
·
Menerapkan sistem manajemen dan
teknologi yang dapat memacu peningkatan efisiensi, konsistensi mutu,
keselamatan kerja yang berwawasan lingkungan.
·
Tumbuh dan berkembang bersama mitra
kerja secara sehat dan berkesinambungan.
·
Mengembangkan kompetensi dan
kesejahteraan pegawai.
Nilai-nilai yang
berusaha ditanamkan oleh perusahaan sebagai penyampai pesan visi dan misi
ialah; Commitment, Innovation, Balance, Excellence, Relationship, Teamwork, dan Integrit
Secara keseluruhan
operasional dari perusahaan terbagi menjadi tiga proses inti, yaitu penjualan,
enjinering, dan produksi. Proses penjualan disini melibatkan proses permintaan
dan penawaran oleh pelanggan, kemudian biro dan seksi terkait akan menyesuaikan
spesifikasi produk melalui proses
enjinering, selanjutnya proses produksi akan dimulai apabila telah tercapai
kesepakatan antara perusahaan dan pelanggan
BAB 111
III. PEMBAHASAN COSO
III.I. Evaluasi Pengendalian Internal PT. WIKA Beton Melalui Kerangka
Pengendalian Internal COSO 2013
III.I.I. Lingkungan Pengendalian (Control
Environment)
PT. WIKA Beton mendukung komponen ini, dimana perusahaan
mengharuskan seluruh unit kerja untuk
membangun lingkungan pengendalian yang kondusif bagi unit nya masing-masing.
Hal ini tertuang pada SOP pengelolaan risiko, dimana lingkungan pengendalian
yang kuat merupakan awalan dari proses manajemen risiko perusahaan.
III.I.II. Penilaian Risiko (Risk
Assessment)
Eksistensi dari sistem manajemen
risiko dan SOP pengelolaan risiko dan penanganan tindakan pencegahan telah
membuat penilaian risiko perusahaan semakin mutakhir. Hal ini dikarenakan
masing-masing unit kerja sekarang dapat mengukur efektivitas dan efisiensi dari
pengendalian yang dilakukan.
Dampaknya, perusahaan dapat
memberikan evaluasi dan tindakan serta persiapan yang tepat untuk menghadapi
risiko selanjutnya. Walaupun baru berjalan 4 tahun, hal ini telah meningkatkan
bukan hanya dari sisi penilaian risiko tapi juga pengendalian internal secara
keseluruhan.
III.I.III. Kegiatan Pengendalian (Control
Activities)
PT. WIKA Beton melakukan dua jenis
kegiatan pengendalian, yaitu pengendalian terhadap prosedur enjinering dan
produksi dan pengendalian operasi. Pengendalian yang pertama berfokus untuk
memastikan biro produksi dan biro teknik menangani produk beton dengan benar
sesuai standar. Pengendalian operasi memastikan agar tercapainya efisiensi
bisnis, kesesuaian dengan peraturan dan pelaporan keuangan yang terpercaya.
Kegiatan
pengendalian teknik dan produksi ditangani oleh biro pengendalian operasi yang
berkoordinasi dengan biro terkait. Sedangkan, pengendalian internal dirancang
dan diterapkan oleh masing-masing unit kerja. Dalam melakukan kegiatan
pengendalian salah satu altternatif yang dapat digunakan oleh perusahaan adalah
pemisahan tugas. Perusahaan telah menerapkan pemisahan tugas sebagai salah satu bentuk pengendalian
III.I.IV. Informasi dan Komunikasi (Information and Communication)
Dalam menyusun sistem informasi
perusahaan, PT. WIKA Beton mengadaptasi sistem yang diterapkan oleh WIKA Induk.
Dalam rangka mendukung percepatan pertumbuhan usaha dan meningkatkan daya saing,
perusahaan mengembangkan
sistem informasi yang fokus pada
operasional dengan menyusun masterplan teknologi informasi atau IT yang menunjang strategi
bisnis perusahaan yang dituangkan dalam Rencana Jangka Panjang dan Jangka
Pendek Perusahaan.
Perkuatan IT masterplan ini didukung dengan adanya peningkatan tata kelola IT,
peningkatan infrastruktur IT dan peningkatan aplikasi bisnis perusahaan yang
bertujuan untuk memastikan sustainability perusahaan, dan memberikan nilai tambah
di setiap fungsi khususnya terhadap efisiensi dan efektivitas proses bisnis
(biaya, mutu dan waktu).
Perusahaan
menyusun model arsitektur IT di mana setiap nilai yang dihasilkan dari setiap
proses memberikan kontribusi terhadap proses pengambilan keputusan. Model ini
ditetapkan perusahaan sebagai acuan pengembangan IT untuk mendukung setiap
perubahan bisnis perusahaan kearah yang lebih baik.
III.I.V. Pengawasan (Monitoring)
Lingkungan operasi PT. WIKA Beton
yang terbagi atas manajemen pusat, manajemen wilayah penjualan, dan manajemen
pabrik produk beton, meningkatkan intensitas dari kegiatan biro SPI.
Berdasarkan internal audit charter PT. WIKA Beton, biro SPI akan melakukan audit
yang ditetapkan pada kebijakan tahun berjalan terhadap wilayah penjualan dan
pabrik, dan akan melaporkan hasil temuan audit kepada manajemen puncak, dan
sesuai struktur organisasi kepada direktur utama.
Dalam setiap struktur organisasi
terdapat tugas mengawasi dari atasan kepada subordinat, misalnya manajer
mensupervisi kepala bagian atas pengisian formulir SOP pengelolaan risiko.
Secara keseluruhan terdapat komite audit dan komite risiko dibawah naungan
dewan komisaris PT. WIKA Beton. Komite audit bertugas untuk mengawasi proses
audit perusahaan dan komite risiko bertugas untuk mengawasi penerapan manajemen
risiko. Dapat dipastikan fungsi pengawasan berjalan pada tingkatan struktur
organisasi.
III.II. Kegiatan Pengendalian
Dalam Rangka Minimalisasi Risiko Pada Proses Bisnis Inti PT. WIKA Beton
Proses bisnis inti digambarkan secara
umum oleh perusahaan untuk menunjukan proses pelaksanaan usaha yang dilakukan
perusahaan. Terdapat SOP teknis secara detail hampir di setiap tahapan sebagai
standar yang harus diterapkan unit kerja yang terkait. Pada gambar 8 terlihat
bagian pertama dari proses bisnis inti perusahaan. Terdapat beberapa risiko
yang dapat diidentifikasi bila didasarkan pada gambar berikut ini.
III.II.I. Risiko R1
Kesalahan dalam menindaklanjuti kontrak merupakan risiko
legal yang sangat besar dampaknya bagi PT. WIKA Beton. Kelemahan kontrak dan
pembinaan pelanggan dapat berakibat pada keterlambatan dalam penyelesaian
persyaratan tagihan.
·
Menyiapkan SDM yang handal untuk
menjabat sebagai manajer dan kepala bagian wilayah penjualan untuk melihat
seberapa besar probabilitas dan dampak yang akan dihadapi jika risiko legal terjadi.
· Memastikan
adanya klausul yang memuat perlindungan kepada
perusahaan.
·
Memperketat pengisian peninjauan
kontrak, manajer wilayah harus terus berkoordinasi dengan kantor pusat sebelum
melanjutkan proses selanjutnya.
III.II.II. Risiko R2
Risiko ini berhubungan dengan teknis enjinering yang
diinginkan oleh pelanggan. Risiko yang dihadapi PT. WIKA Beton adalah
kompleksitas teknis produk yang diinginkan oleh klien. Bentuk pengendalian yang
dapat diterpakan adalah sebagai berikut:
·
Meningkatkan human capital avaibility
·
Melakukan kerjasama operasi dengan
mitra kerja yang memiliki keahlian khusus.
·
Peningkatan kompetensi pegawai
melalui pengembangan teknologi.
·
Terus meng-update SOP-SOP teknis
yang dimiliki oleh masing-masing unit kerja.
III.II.III. Risiko R3
Risiko yang ditimbulkan pada proses ini adalah pada terms and conditions pembayaran dan
spesifikasi teknis yang diajukan perusahaan tidak dapat memenuhi ekspektasi
pelanggan. Pengendalian yang dapat diterapkan adalah:
· Menilai
kredibilitas dan kemampuan pendanaan dari pemberi kerja.
·
Mengharuskan pemberian uang muka
proyek dan pelaksanaan pekerjaan dilakukan sesuai dengan perjanjian yang
disepakati.
· Melindungi
kepentingan perusahaan dengan menyusun kontrak yang kuat.
· Melakukan
strategi negosiasi yang baik jika terjadi perselisihan dengan pemberi kerja.
III.II.IV. Risiko R4
Risiko yang dihadapi disini adalah lemahnya perencanaan
dan persiapan yang dilakukan oleh seksi PEP yang menyebabkan banyaknya
permasalahan yang terjadi ketika pelaksanaan produksi dimulai. Pengendalian
yang dapat dilakukan, antara lain:
· Meramalkan
permintaan produk, mengawasi permintaaan aktual, dan membandingkannya dengan
ramalan permintaan sebelumnya.
· Menetapkan
ukuran pemesanan barang yang ekonomis atas bahan baku yang akan dibeli.
· Menetapkan
kebutuhan produksi dan tingkat persediaan pada saat tertentu.
·
Mengawasi tingkat persediaan,
membandingkannya dengan rencana persediaan, dan melakukan revisi rencana produksi
pada saat yang ditentukan.
· Melaksanakan
rapat evaluasi perencanaan produksi minimal satu kali dalam seminggu.
·
Terus berkoordinasi dengan seksi
produksi dan peralatan terkait dengan proses pelaksanaan produksi.
III.II.V. Risiko R5
·
Praktik Suap dan Uang Terima Kasih
(kickbacks) kepada/dari Pemasok &
konflik Kepentingan.
Kegiatan pengendalian preventif yang dapat dilakukan
perusahaan adalah dengan menerapkan job rotation bagi pihak yang berhubungan
dengan menyeleksi pemasok. PT. WIKA Beton juga telah mengimplementasikan sistem
ini sebagai bentuk cross-training antar
unit kerja.
·
Bid-Rigging,
Cartels, dan Cover Pricing
Bentuk pengendalian juga dilakukan saat mengevaluasi
pemasok, bagian pengadaan perusahaan akan mengadakan rapat yang terdiri oleh
kepala bagian pengadaan, manajer produksi, dua orang staf pengadaan, dan
disupervisi direksi jika dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk mengurangi
subyektivitas pada pemasok, sehingga keputusan pemilihan merupakan pemasok yang terbaik.
·
Pemalsuan Cek (Cheque Forgery)
Salah satu alat pengendalian yang dapat digunakan adalah
pemisahan tugas (segregation of duties). Selain pemisahan tugas, perusahaan
juga harus mempertimbangkan prosedur penulisan cek, yang memiliki otoritas
tidak boleh menandatangani cek tersebut sebelumnya, jika memungkinkan untuk
otorisasi diperlukan lebih dari satu tanda tangan Selanjutnya dengan melakukan
rekonsiliasi saldo cek secara rutin yang dilakukan dengan tingkatan manajemen
yang sesuai.
·
Fictitious Invoicing
Dapat dilakukan pengendalian dengan cara; faktur
disetujui untuk pembayaran apabila terdapat bundel voucher yang lengkap. Kedua
hanya salinan asli faktur yang dibayar. Ketiga, sebagai tindakan preventif,
setiap faktur yang telah dibayar harus dibatalkan (ditandai “telah dibayar”).
III.II.VI. Risiko R6
Terdapat risiko bahwa rencana pengadaan material tidak
disusun secara baik dan tepat waktu, rencana pengadaan material tidak dapat
direalisasikan, rencana pengadaan material tidak memperhitungkan kenaikan harga
yang signifikan, dan lain sebagainya. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah:
·
Penyusunan rencana pengadaan
material yang didasarkan pada kebutuhan dan menghindari
over budget.
·
Penyusunan rencana pengadaan
material harus mempertimbangkan waktu proses pengadaan dan pemenuhan atas
proyek terkait.
·
Penyusunan rencana pengadaan
material harus memperhitungkan fluktuasi kenaikan harga dan ketersediaan
material yang dibutuhkan.
Selain itu terdapat risiko yang berhubungan dengan penerimaan material
yang tidak sesuai dengan pesanan (unordered
goods). Bentuk pengendalian yang diterapkan PT. WIKA Beton adalah
menginstruksikan bagi bagian pengadaan untuk menerima pengiriman dimana
terdapat salinan dari purchase order yang sah.
BAB IV
IV . PENUTUP
IV.I. kesimpulan
·
Kerangka pengendalian internal PT.
WIKA Beton, telah memenuhi; lingkungan pengendalian
yang didukung oleh kebijakan direksi; penilaian risiko
telah mendukung manajemen risiko dengan adanya SOP pengelolaan risiko; sistem
informasi yang terintegrasi, seperti HRMS, WIKA Beton Balance Scorecard, SAP, dan lain sebagainya; tersedia prosedur
untuk menjalankan kegiatan pengendalian internal; serta setiap jajaran
manajemen unit kerja berkoordinasi dengan biro SPI dalam rangka melakukan
pengawasan untuk memastikan eksekusi pengendalian sesuai dengan prosedur yang
berlaku.
·
Sejak dibuatnya SOP pengelolaan risiko
pada tahun 2009, masing-masing unit kerja dapat melakukan pengukuran keuangan
terhadap risiko yang dihadapinya. Hal ini dapat mendukung proses bisnis yang
dilakukan perusahan dengan meminimalisasi risiko dan kerugian yang ditimbulkan.
·
Risiko yang dapat mengancam
kelangsungan perusahaan terdapat pada peninjauan kontrak, perencanaan produksi,
pengadaan, dan penagihan pembayaran. Proses bisnis inti perusahaan dilaksanakan
based on project, sehingga banyak
risiko inherent yang dihadapi. Untuk itu, prosedur yang ada berperan penting
dalam meminimalisasi risiko.
IV.II. Saran
·
Perusahaan sedang merencanakan dan
mempersiapkan Initial Public Offering (IPO).
Apabila memungkinkan, penelitian selanjutnya dapat membandingkan sistem
pengendalian internal sebelum dan sesudah IPO.
·
Terkait dengan cakupan penelitian,
disarankan untuk memfokuskan penelitian pada wilayah penjualan dan pabrik
produk beton karena sebagai pelaksana pengelolaan usaha bisnis inti, banyak hal
yang dapat diteliti lebih lanjut secara spesifik.
· Pastikan
untuk mendapatkan akses lebih ke data-data perusahaan (bahkan full-access).
Menarik untuk meneliti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar